My Skincare Journey

Kali ini saya mau share mengenai perjalanan skincare saya dari beberapa tahun yang lalu sampai saat ini. Sebenarnya saat menginjak bangku SMA, saya memiliki masalah dengan wajah berjerawat. Berbagai produk  skincare yang beredar di pasaran sudah saya coba tapi tidak ada yang berhasil menghilangkan masalah ini.

Sampai suatu saat saya mulai masuk bangku kuliah dan pindah ke Bandung. Waktu itu saya masuk suatu pusat perbelanjaan dan mata saya tertuju dengan salah satu counter kosmetik di tempat tersebut. Ya itu adalah counter Clinique. Salah satu produk  skincare dari Amerika. Awalnya saya mencoba basic three step dari Clinique, melihat efeknya selama beberapa bulan dan setelah puas dengan hasilnya yang dapat membuat wajah saya tidak berjerawat lagi, kemudian saya hanya menggunakan satu merek ini saja untuk keseluruhan skincare routine saya.

Credit : Google (Pinterest)

Karena saya biasanya cenderung loyal terhadap satu merek apabila memang sudah merasa cocok, akhirnya saya bertahan menggunakan Clinique selama hampir 11 tahun. Lantas kenapa saya menghentikan penggunaan produk ini setelah bertahan untuk tidak pindah ke lain produk selama 11 tahun? Awalnya waktu itu saya merasa kulit saya menjadi cenderung kering. Saya berpikir mungkin karena sehari-hari lebih banyak berada di ruangan ber-AC atau karena konsumsi air saya yang kurang. Tapi setelah sekian lama mencoba berbagai cara tetap saja saya mulai merasa tidak cocok dengan apapun produk Clinique (mungkin karena sudah terlalu lama menggunakan produk ini sehingga kulit sudah terlalu kebal).

Akhirnyaaa setelah lama menggunakan produk Clinique dan harus mencari yang lain, rasanya seperti sudah pacaran lama, harus putus dan pindah ke lain hati. Saya mencoba beberapa merek skincare lain. Mulai dari merek Jepang, America dan lain-lain tapi belum ada yang cocok. Sampai saya mencoba produk skincare Korea. Awalnya saya memilih produk asal negeri ginseng ini karena termakan drama-drama Korea. Takjub dengan kulit mereka yang begitu indah dan dibuktikan juga pada saat saya berkunjung ke sana, saya jatuh cinta dengan kulit orang Korea.

Saat itu saya mencoba produk Laneige seri water bank dan saya suka sekali bagaimana efek produk ini terhadap kulit saya. Saya menggunakan produk ini untuk waktu yang cukup lama sekitar dua tahun. 

Source : Google

Tapi setelah itu saya mulai tertarik untuk mencoba produk Korea lainnya dan inilah asal muasal saya suka mencoba produk-produk skincare Korea. Melalui blog ini saya juga ingin berbagi review mengenai produk-produk skincare yang pernah saya coba. Karena sebelum saya mencoba suatu produk biasanya saya sendiri juga cenderung untuk mencari review dari orang-orang yang sudah mencoba produk tersebut. Makanya saya juga ingin melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang saya anggap sudah banyak membantu saya melalui review mereka. Untuk teman-teman yang juga punya review beberapa produk boleh lho share melalui kolom komentar. Terima kasih.

Keputusan Menjadi Ibu Pekerja di Rumah

Dulu saya tidak berpikir bahwa saya akan mengambil keputusan secepat ini. Saya berpikir menjadi seorang Ibu dan seorang karyawan bisa jalan beriringan. Meskipun sejak dulu, bahkan sebelum saya menikah, hamil dan memiliki anak, Papi saya selalu menyarankan saya untuk memiliki usaha sendiri. Kebetulan keluarga kami datang dari keluarga pedagang di mana tidak ada seorangpun anggota keluarga kami yang menjadi karyawan.

Singkat cerita saya hamil 37 minggu dan melahirkan Hika, kemudian mengambil cuti dari tempat bekerja selama 4 bulan. Sampai saat itu pun saya masih belum terpikir untuk berhenti bekerja. Tapi kemudian saat saya mulai masuk bekerja setelah 4 bulan cuti, saya merasakan kembali menaklukkan jalanan Jakarta yang semakin tidak bersahabat. Berangkat subuh agar tidak terlambat sampai kantor dan tidak terjebak macet. Pulang tepat waktu pukul 5 sore tapi masih harus sampai rumah pukul 8 malam. 

Credit : unsplash.com

Saya kemudian berpikir berapa lama waktu yang saya habiskan dengan Hika? Apakah saya akan menyaksikan saat dia pertama kali bicara, pertama kali berjalan, dan tahapan tumbuh kembang lainnya. Saat itu saya berpikir saya tidak mau meninggalkan Hika dengan orang lain selama lebih dari 15 jam setiap harinya. Pikiran saya sangat sederhana, saya ingin ada di samping Hika saat dia membutuhkan saya. Sama seperti dulu Mami saya ada di samping saya saat saya membutuhkan.

Akhirnya saya ambil keputusan itu. Keputusan yang sama sekali belum saya pikirkan untuk saya ambil. Saya memutuskan berhenti dari pekerjaan lama saya dan fokus pada Hika. Saya belum memikirkan bagaimana secara penghasilan? Efek apa yang akan timbul dari rumah tangga yang tadinya double  kemudian menjadi single income.

Pada kenyataannya Allah itu selalu memberi jalan yang terbaik untuk umatnya. Selama tujuan kita untuk sesuatu yang baik, pasti akan diberikan jalan keluar. Saat itu saya dan suami memutuskan untuk produksi kaos anak dengan desain sendiri. Akan tetapi karena kami berdua kurang fokus dalam mengelolanya, akhirnya bisnis tersebut harus kami kesampingkan. Lalu saya membuka usaha baju wanita dewasa dengan salah satu teman yang kebetulan masih menjadi karyawan. Lagi-lagi kekurangannya adalah kami kurang fokus dan total dengan bisnis kami, sehingga bisnis tersebut harus kami hentikan.

Credit : unsplash.com

Perjuangan saya tidak berhenti di situ. Saya kemudian mencoba bisnis aksesoris gelang. Awalnya karena memang saya senang menggunakan gelang dan memutuskan untuk membuatnya sendiri. Kebetulan Mami saya juga memang gemar menggunakan aksesoris dan beliau menjadi pelanggan pertama saya. Kemudian ada permintaan dari teman-teman dan saya menjualnya. Sampai akhirnya saya mencoba memasarkan melalui instagram dan alhamdulillah mendapatkan respon positif. Sampai saat saya menulis ini, saya sudah memiliki pelanggan dari beberapa belahan Indonesia. Mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur.

Selain bisa berbisnis sesuai dengan minat saya, memiliki waktu yang fleksibel, saya juga dapat mengalokasikan waktu untuk mengelola usaha keluarga di luar Jakarta. Bahkan sekarang saya dan keluarga mulai masuk usaha souvenir kaos yang alhamdulillah juga sudah berjalan hampir 2.5 tahun dan terus berkembang. Banyak hal yang saya dapatkan yang sebelumnya saya pikir tidak akan saya dapatkan dengan berhenti bekerja. Hal paling positif yang saya rasakan adalah hidup saya lebih bahagia saat ini. Bukankah sudah hak dan kewajiban kita sebagai manusia untuk mencari kebahagiaan kita masing-masing apapun bentuknya.

Cerita ini hanya gambaran mengenai jalan hidup yang saya pilih (atau Allah pilihkan untuk saya). Bisa saja keputusan berbeda diambil oleh orang lain. Tidak ada yang salah dan benar dalam hal ini. Setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Saya hanya ingin berbagi bahwa jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kita ambil karena dari setiap konsekuensi itu akan ada hikmah yang dapat kita ambil. Jangan juga menyerah dalam setiap jalan yang sudah kita pilih, karena keberhasilan didapat bukan dalam satu malam atau hanya dari jentikan jari. Semuanya diperlukan usaha keras dan konsistensi.